Senin, 23 April 2012

Konsep Tarbiyah Akhlak dalam Alquran (8)

Oleh: DR. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy*

Ketiga, berpegang kepada perpaduan seluruh anasir emosi dan tidak berpegang pada memenangkan satu unsur atas unsur perasaan yang lain. Akan kami jelaskan prinsip ini agar semakin jelas urgensinya dan bagaimana Al Quran berpegang pada prinsip ini.

Sumber perasaan manusia terbagi dalam tiga kategori :

pertama : perasaan pendorong seperti rasa senang, harap dan suka
kedua : perasaan penahan, seperti rasa takut, cemas dan empati


ketiga : perasaan kagum, seperti rasa kagum, cinta dan mensucikan

Kalau kita renungi aneka perasaan dan emosi dalam hidup manusia, maka tidak ada perasaan yang terlahir kecuali masuk dalam salah satu dari tiga kategori di muka. Inilah pegangan para pendidik dalam melangsungkan kegiatan pendidikannya dengan berdasarkan pada menggugah emosi.

Seorang Murabbi atau pendidik tidak bisa hanya memperhatikan satu unsur dari tiga anasir di atas, dengan anggapan bahwa unsur itu yang paling penting. Yang paling penting adalah bagaimana kita memadukan tiga anasir di atas yang menjadi sumber bagi setiap perasaan dan emosi. Apabila ada satu unsur lebih berpengaruh atau mendominasi anasir yang lain maka itu adalah biang keusakan dan keburukan, dan tujuan tarbiyah tidak akan pernah tercapai.

Ketika seorang pendidik memandu siswanya dengan cambuk ketakutan maka itu adalah sebab utama kerusakannya. Ketika seorang pendidik hanya memotivasi siswanya dengan rasa suka dan senang saja maka itu adalah sikap merusak. ketika seorang pendidik memenuhi emosinya dengan perasaan mensucikan atau kagum, tanpa dibarengi dengan rasa harap dan cemas, maka ia tidak bisa menggerakkan yang diam dan tidak pula meluruskan yang bengkok.

Sebuah metode tarbiyah akan berhasil jika memadukan tiga perasaan sekaligus, dan tidak akan gagal dan berantakan sebuah solusi tarbiyah dari hasil yang diharapkan, kecuali jika tidak ada perpaduan tiga hal di atas.

Kitab Allah swt menarik hati manusia dengan kekuatan emosi dan perasaan- setelah menyentuh akal dan logika- yang terdiri dari tiga hal di atas dengan penuh keseimbangan dan keselarasan.

Kita tidak akan melihat satu ayat yang menyerahkan manusia pada rasa cemas semata, atau harapan dengan kabar gembira tanpa dibarengi dengan rasa takut. Bahkan termasuk kaidah utama dalam kitab Allah, tidaklah Allah mengingatkan manusia sifat keras dan membalas-Nya kecuali pasti disebutkan juga setelahnya sifat kasih sayang dan maha pengampun. Tidaklah Allah swt mendeskripsikan surga dan nikmat yang ada di dalamnya, kecuali Allah pasti menyebutkan deskripsi neraka jahannam dengan segala siksa yang mengerikan. Di ayat manapun yang kita baca, maka kita tidak akan menemukan penyimpangan dari kaidah ini. Kita tidak akan mendapatkan sebuah ayat yang menjelaskan satu hal kecuali Allah pasti ajukan ayat lain yang menjadi bandingannya.

Lihatlah firman Allah swt :

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (49) وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ (50)

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Dan bahwa Sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.”(QS. Al Hijr : 49-50)

Bahkan bacalah ayat di bawah iini dengan seksama :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu Kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar : 53-54)

Perhatikanlah ayat-ayat berikut ini, pada penggal pertama Allah paparkan siksa Allah kepada orang kafir nanti di hari kiamat dan pada penggal ayat kedua Allah kemukakan bandingannya, rahmat dan nikmat surga yang Allah berikan kepada hamba-hamba-nya yang shalih :

إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا (21) لِلطَّاغِينَ مَآَبًا (22) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا (23) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا (24) إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا (25) جَزَاءً وِفَاقًا (26) إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا (27) وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا كِذَّابًا (28) وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا (29) فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا (30) إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا (31) حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا (32) وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا (33) وَكَأْسًا دِهَاقًا (34) لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا (35) جَزَاءً مِنْ رَبِّكَ عَطَاءً حِسَابًا (36) رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمَنِ لَا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَابًا (37)

“Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai. Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman. Selain air yang mendidih dan nanah. Sebagai pambalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab. Dan mereka mendustakan ayat-ayat kami dengan sesungguh- sungguhnya. Dan segala sesuatu Telah kami catat dalam suatu kitab. Karena itu rasakanlah. dan kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan. (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur. Dan gadis-gadis remaja yang sebaya. Dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta. Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak. Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; yang Maha Pemurah. mereka tidak dapat berbicara dengan Dia.” (QS. An Naba : 21-37)

Manfaat yang dapat kita ambil dari komitmen kita kepada kaidah di atas adalah, manusia hidup di antara dua sisi, sisi harap dan cemas, antara satu dengan yang lain tidak saling mendominasi, sehingga rasa harap kepada rahmat Allah tidak menjadikan kita meninggalkan kewajiban dan beban-beban taklif yang lain, pada sisi yang lain, rasa camas dan takut kita kepada Allah tidak memalingkan kita dari melaksanakan kewajiban kita karena putus asa misalnya, atau karena merasa yakin bahwa amalan yang kita lakukan tidak akan diterima dan tidak memberikan manfaat apa-apa.

Apapun jalan yang ditempuh oleh seorang murabbi atau pendidik kepada anak didiknya, bagaimanapun kondisi anak didiknya, tidak akan berhasil kecuali jika memadukan dua perasaan penting manusia, rasa harap dan takut.

Bukti nyata tentang keberhasian metode ini adalah yang telah diterapkan oleh Al Quran, di mana Al Quran ketika mendeskripsikan kondisi penghuni surga maka Allah akan gambarkan dengan sifat dan karakter utama mereka, sebaliknya ketika Al Quran mendeskripsikan penghuni neraka maka Allah akan paparlkan perangai dan karakter terburuk mereka yang mengundang murka Allah swt.

Hikmah dari model paparan seperti ini, ketika kita merenungi karakter orang beriman dan membandingkan dengan kondisi kita, maka kita melihat posisi kita ada di bawah mereka, karena karakter mereka yang penuh dengan kebaikan dan keshalihan, lalu kita tidak merasa yakin dan berharap menjadi bagian dari mereka. Sebaliknya ketika kita merenungkan perangai penghuni neraka dan memabandingkannya dengan diri kita, maka kita sedikit lebih baik dari mereka, dimana mereka memiliki perangai dan karakter buruk, sehingga kita berharap tidak termasuk dalam kelompok mereka dan kita menilai diri kita di poros tengah antara mereka berdua, hati kita pun harap-harap cemas, lalu kita berusaha untuk menaikkan posisi kita lebih tinggi dari kondisi orang-orang kafir dan bisa setara dengan orang-orang beriman.

Marilah kita perhatikan firman Allah swt yang menggambarkan orang-orang beriman yang layak mendapatkan ridha-Nya :

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا (64) وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (65) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (66) وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا (67) وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68)

“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al furqan : 64-68)

atau firman Allah swt yang lain :


إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18) وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (19)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air. Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz Dzariyat : 15-19)

Kalau kita renungi ayat-ayat di atas, yang memaparkan karakter dan sifat orang beriman yang layak mendapatkan surga dan ridha-Nya, maka yang kita dapatkan adalah mereka para rabbaniyyin dan shiddiqin, mereka yang menghidupkan malam mereka dengan shalat malam, istighfar kepada Allah di waktu sahur, berjalan di dunia dengan rendah hati, tidak reken kepada tingkah laku orang yang jahil dan tidak peduli dengan pemusuhan para pendengki.

Ketika kita melihat diri kita, lalu membandingkan antara sifat dan karakter kita dengan mereka, sedikit sekali kita menemukan titik kesamaan. Namun jangan sampai kita ragu bahwa kita tidak akan memperoleh bagian dari janji Allah kepada mereka, atau kita tidak bisa menjadi bagian dari mereka.

Tapi lihatlah ke sisi yang lain sebagai bahan perbandingan, dimana Allah swt menggambarkan perangai orang-orang kafir penghuni neraka pada hari kiamat nanti, Allah swt berfirman :


عَنِ الْمُجْرِمِينَ (41) مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (43) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (44) وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ (45) وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ (46) حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ 47)

“Tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa. "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? "Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya. Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan. Hingga datang kepada kami kematian.” (QS. Al Mudatstsir : 41-47)


وَأَصْحَابُ الشِّمَالِ مَا أَصْحَابُ الشِّمَالِ (41) فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ (42) وَظِلٍّ مِنْ يَحْمُومٍ (43) لَا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ (44) إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُتْرَفِينَ (45) وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيمِ (46) وَكَانُوا يَقُولُونَ أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَئِنَّا لَمَبْعُوثُونَ (47) أَوَآَبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ (48)

“Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu?. Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih. Dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewahan. Dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa besar. Dan mereka selalu mengatakan: "Apakah bila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah Sesungguhnya kami akan benar-benar dibangkitkan kembali?. Apakah bapak-bapak kami yang terdahulu (juga)?” (QS. Al Waqiah : 41-48)

Kalau kita renungi ayat-ayat di atas, yang memaparkan puncak perangai dan karakter orang-orang kafir, lalu ketika kita melihat diri kita dan membandingkannya dengan kondisi mereka dengan kita, maka kita akan melihat dengan tidak ragu, diri kita masih lebih baik dari mereka, ada harapan besar kita tidak masuk dalam kelompok mereka dan tidak mengecap sedikipun adzab yang ditimpakan kepada mereka.

Dan ketika kita kembali melihat paparan Al Quran tentang dua karakter dan pemiliknya, maka kita akan melihat diri kita tidak memiliki tempat dalam keduanya, kita ada dalam poros tengah antara yakin dengan rahmat Allah dan ampunan-Nya sekaligus juga yakin dengan adzab dan balasan-Nya, kita dalam kondisi harap dan cemas, senang dan sedih, kondisi inilah yang membawa kita pada usaha untuk mendekati karakter orang-orang shalih dan menjauhi karakter orang-orang kafir yang hancur harapannya kelak di akhirat.

Penjelasan Allah ini adalah sebuah metode tarbiyah kepada kita, yang menempatkan kita pada posisi antara takut kepada adzab dan harap akan pahala-Nya di akhirat kelak, sehingga takut kita kepada adzabnya tidak menjadikan kita patah arang dan putus asa, sebaliknya harapan akan rahmat Allah tidak menjadikan kita menanggalkan segala kewajiban yang ada di atas pundak kita.

Allah telah mendidik kita dengan penjelasan yang nyata ini, agar kita selalu dalam keadaan takut dan harap. Kita tidak akan beribadah kepada Allah dengan menyertakan satu perasaan dari keduanya, tidak condong kepada sifat Allah yang menunjukkan semata-mata kekerasan, atau semata-mata kesenangan. Allah gambarkan kondisi hamba-hamab yang shalih dalam salah satu firman-Nya :

وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami.” (QS. Al Anbiya : 90)

Lalu mewanti-wanti kita agar tidak merasa aman dari adzab Allah swt :

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A'raf : 99)

sebagaimana Allah juga mewanti-wanti kita agar tidak putus asa pada rahmat Allah yang maha luas’

إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

"Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf : 87)

Akan kami sampaikan kepada anda, sebuah teks washiyat yang menunjukkann metode tarbiyah yang agung dalam Al Quran. Teks wasiat itu adalah berasal dari sahabat mulia Abu Bakar ra. kepada sahabatnya yang mulia Umar bin Khatthab ra. ketika menjelang wafat :

“....Wahai sahabatku Umar, bukankah engkau tahu bahwa yang membuat berat timbangan amal orang-orang yang berat timbangannya adalah keteguhan mereka dalam mengikuti kebenaran dan perjuangan berat mereka di dalamnya, dan benarlah timbangan itu kelak tidak akan di letakkan diatasnya kebenaran kecuali akan menjadi berat.

Wahai sahabatku Umar, bukankah engkau tahu bahwa yang membuat ringan timbangan amal orang-orang yang ringan timbangannya adalah keteguhan mereka dalam mengikuti kebathilan dan ringannya perjuangan mereka di dalamnya, dan benarlah timbangan itu kelak tidak akan di letakkan diatasnya kebathilan kecuali akan menjadi ringan.

Wahai sahabatku Umar, bukankah engkau tahu bahwa ayat yang berisi penjelasan akan kenikmatan selalu turun bersamanya ayat yang berisi penjelasan akan kesulitan, sebaliknya ayat yang berisi penjelasan akan kesulitan selalu turun bersamanya ayat yang berisi penjelasan akan kenikmatan, agar orang beriman itu selalu diharu biru oleh rasa harap dan cemas, tidak berharap benar apa yang tidak menjadi haknya, juga tidak takut benar akan yang menimpa sekelilingnya.

Wahai sahabatku Umar, bukankah engkau tahu bahwa Allah selalu menggambarkan penghuni neraka dengan amalan terburuk mereka, lalu engkau ingat dan engkau berkata, semoga aku tidak masuk dalam kelompok mereka, sebaliknya, Allah selalu menggambarkan penghuni surga dengan amalan terbaik mereka, ketika engkau ingat itu, engkau berkata, betapa jauhnya amalku dari amalan mereka. Jika engkau jaga washiyat ini baik-baik, maka tidak ada hal ghaib yang lebih engkau cintai dari mati, dan mati pasti akan menghampirimu. Sebaliknya, jika engkau sia-siakan washiyat ini, maka tidak ada hal ghaib yang lebih engkau benci kecuali mati, dan engkau tidak ada kuasa sedikitpun untuk mengalahkan (takdir) Allah.”

Inilah tiga anasir penting perasaan manusia yang dalam konsep tarbiyah ilahiyah menjadi dasar utama dalam menggugah emosi dan perasaan. Kami telah menjelaskannya dengan ringkas, sesuai dengan kadar buku yang sederhana ini. Semoga Allah mendorong sebagian dari kita untuk melakukan kajian masalah penting ini lebih dalam dengan analisa, studi dan penjelasan yang lebih baik lagi. Amin Amin Amin

Konsep Tarbiyah Akhlak dalam Alquran (7)

Oleh: DR. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy* Kedua, adalah merupakan pandangan yang mungkin untuk menggugah banyak anasir emosi yang ada di dalam jiwa kita dengan dua cara: Pertama, menggunakan akal agar mengingatkan diri kita akan emosi dan perasaan yang tersembunyi, dengan harapan bisa menggugah dan mengarahkannya pada tujuan dan jalan yang dituju. Sebagai contoh, ketika kita ada di hadapan orang kaya, kita berusaha untuk menggugah rasa emapatinya kepada orang miskin yang ada di sekitarnya, lalu akal dan pikirannya pun menyadari, bahwa adalah sebuah kedhaliman yang nyata dalam masyarakat ketika ada jurang perbedaan kekayaan materi antara dua saudara yang bertetangga, dan akibat besarnya dalam masyarakat adalah begini dan begini, adalah sangat tidak masuk akal ketika ada tetangga yang kelaparan bukan karena dosa yang dilakukannya, sementara dirinya hidup dalam kelimpahan padahal tidak ada yang istimewa dalam dirinya. Sesungguhnya anda dengan ungkapan ini dan semisalnya, hendak mengingatkan akalnya dengan bahasa logika kepada buruknya kondisi tetangga yang miskin tersebut, dengan harapan orang kaya itu akalnya menerima, tergugah rasa kasih sayangnya, sehingga ia tergerak untuk berempati kepada tetangganya yang miskin. Namun cara ini tidak berhasil sama sekali, karena emosi jiwa itu tidak akan tergerak oleh akal, tetapi oleh tembusan rasa ke dalam jiwa. Kondisi si miskin yang mengenaskan karena kelaparan adalah pandangan yang menyakitkan bagi si kaya, menggoyang perasaan dan akhirnya mempengaruhinya, bukan karena pikiran para pembaharu dan bukan karena logika ahli filsafat sekalipun. Kalau seandainya pemikiran dan logika memiliki kekuasaan untuk menembus ke perasaan, pasti orang-orang yang miskin papa itu akan merubah penampilannya yang mengundang rasa kasihan, dengan papan pengumuman di dada yang menjelaskan kondisi sosial mereka yang berbeda, dan berhujjah dengan bukti-bukti yang membuat orang lain memperhatikan kondisi mereka yang sangat sengsara dan menyedihkan. Kedua, Menggunakan cara deskripsi dan penggambaran, meletakkan gambaran ini dalam alam khayal, jika tidak mungkin meletakkannya di depan mata kepala mereka, tanpa memakai sedkiitpun sarana pikiran maupun logika. Ini adalah cara yang sangat jitu bagi seorang murabbi yang ingin menggunakan sarana menggugah emosi anak didiknya untuk sampai pada tujuan tarbiyahnya, dan inilah cara yang telah digunakan oleh Al Quran. Sesungguhnya Al Quran itu tidak akan berdialog dengan akal kecuali apabila ada ingin mengingatkan akan hakikat ilmiah dan pikiran semata. Namun apabila Al Quran hendak beridialog dengan perasaan yang tersembunyi dalam jiwa, maka Al Quran akan memakai sarana penggambaran dan deskripsi, lalu meletakkannya dalam khayalan pembaca dan pendengarnya, ibarat kaca paling bening yang mampu memantulkan gambar yang kita inginkan dengan lebih jelas dan nyata. Bisa jadi Al Quran memaparkan gambaran ini ke dalam jiwa kita hanya dengan satu kata atau dengan beberapa ayat, sesuai dengan kondisi, artikulasi dan konteks pembicaraan. Perhatikanlah beberapa ayat, di antaranya dalam surat Al Isra : وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا “Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al Isra : 23) Ayat ini berdialog dengan akal manusia, memerintahkan manusia agar tidak beribadah kepada selain Allah, berbakti kepada kedua orang tua, tidak menyakitinya dengan kata ataupun perbuatan, namun agar perintah-perintah ini bisa dilaksanakan dengan baik, maka ia butuh ketundukan hati pada Allah yang harus digerakkan, sekaligus juga penerimaan akal sehat terhadap perintah ini, lalu di kata apakah Allah tumbuhkan dan gerakkan perasaan hati yang tunduk tersebut? Rahasia jawabannya adalah ada di kata عِنْدَكَ “indaka.” Seandainya kata ini dihilangkan, maka hilanglah faktor terbesar yang memiliki pengaruh dalam hati, satu kata namun penuh dengan segudang perasaan yang mempengaruhi jiwa manusia, karena ayat ini memberikan gambaran kepada pembaca dan pendengarnya kondisi kedua orang tuanya yang sudah beranjak tua dan lemah, kemudian kedua orang tua itu hidup nyaman dalam naungan kasih dan sayangnya, setelah dulunya ia dalam naungan kasih dan sayang kedua orang tuanya. Lihatlah bagaimana Allah menggugah rasa empati dan kasih sayang yang ada dalam jiwa seorang anak dengan gambaran yang diletakkan di depan matanya, tanpa memakai sarana petunjuk, arahan dan peringatan akal pikiran. Seandainya gambaran itu digantikan dengan ungkapan peringatan, ancaman atau semisalnya, maka akan ada pembatas antara akal dengan persepsi jiwa akan gambaran yang cukup menyakitkan itu, dan jauhlah arahan moral itu dari pengaruh kejiwaan yang diinginkan. Ayat di atas mirip sekali dengan ayat berikut ini, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأنْثَى بِالأنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat.” (QS. Al baqarah : 178) Ayat ini, seperti yang kita lihat, menetapkan aturan syariat tentang qishash dan diyat atas seorang pembunuh, sebagaimana ditetapkannya ampunan qishash dari keluarga terbunuh yang menuntut agar si pembunuh segera melunasi keseluruhan diyat atau sebagiannya jika keluarga si terbunuh mengampuni sebagiannya. Hanya saja ayat ini di samping menetapkan hukum aqli yang berdimensi hukum fiqih, ayat ini juga menyentuh perasaan persaudaraan dan kemanusiaan antara si keluarga terbunuh dengan si pembunuh, dengan harapan adanya pengguguran hak dari si keluarga terbunuh, dan ini diungkapkan dengan satu kata saja أَخِيهِ “akhiihi” Lihatlah makna dan keduduan kata ini dalam ayat tersebut, kata ini hanya sekedar mengingatkan kepada keluarga si terbunuh tanpa mendikte atau mengarahkan kepada suatu tindakan. Satu kata yang mencoba unttuk melukiskan gambaran persaudaraan antara keluarga terbunuh dengan si pembunuh, bahwa si pembunuh adalah juga saudaranya, dan keluarga yang terbunuh adalah wali bagi yang terbunuh. Betapa ada perbedaan yang mencolok antara dua gambaran di sini, satu sisi melukiskan rasa sayang dan pengampun, dan sisi yang yang lain melukiskan hak balas dan dendam. Seandainya kita ganti kata ini yang penuh makna ini dengan bahasa pengarahan yang hanya menyentuh akal dan pikiran saja, maka hal itu tidak akan mampu menggantikannya. Dan akal tidak akan memberikan pengaruh apapun dengan logika pikirannya, karena perasaan yang ada di dalam jiwa lah yang bergelora dengan rasa dendam dan balas, bukan akal dan pikiran saja. Mari kita lihat lagi firman Allah dalam ayat yang lain : وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلا مَعْرُوفًا (8) وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (9) إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا (10) “Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, Maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, Sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An Nisa : 8-10) Kita melihat, bahwa pokok bahasan ayat ini adalah hak anak yatim dan kewajiban kita untuk menjaganya. Dalam ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya ada ancaman keras bagi yang mendapat washiyat harta anak yatim agar tidak menyia-nyiakan nya dan memakan berlebihan melebihi haknya, dan di dalamnya aada perintah umum agar kita menjaga kondisi orang-orang lemah yang kehilangan penuntun dan keluarga yang menanggung mereka. Sesuai dengan kaidah umum dalam kitab Allah swt, seperti yang telah kami sampaikan pada bab-bab awal, bahwa adalah suatu hal yang niscaya mewarnai hukum fiqih yang penuh perintah dan larangan, dengan menggugah perasaan yang membantu jiwa untuk mudah menerima dan memperhatikannya dengan smangat ketaatan dan cinta, yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana ayat ini menggugah perasaan dan bagaimana caranya ? Cara menggugah perasaan ini kita lihat berlipat kali diulang dalam ayat ini, وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (9) “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An Nisa : 9) Permulaan ayat diawali dengan perintah yang menguatkan perintah-perintah sebelumnya, namun Allah menjelaskan ayat ini dengan mengikat perintah dengan lukisan perasaan yang pengaruhnya sampai kepada kedalaman jiwa hamba yang diajak berdialog dalam ayat ini secara langsung, yakni perasaan khawatir akan keturunan yang ditinggalkan dalam keadaan lemah tanpa penuntun dan penolong sama sekali. Penjelasan Allah ini membuahkan gambaran yang menggugah perasaan orang yang diajak berdialog, ketika mereka sadar dan membayangkan kejadiannya, maka akan bangkit rasa kasih sayang dan iba dalam dadanya kepada anak-anak yang masih kecil dan yang yatim di sekitar mereka, lalu Allah pun menurunkan perintah untuk merawat dan menjaga setiap anak yatim yang ada dalam tanggung jawabnya dan melihat hak mereka dengan mata kasih sayang yang manusiawi. Bisa saja kita melontarkan ungkapan sebagai ganti dari ayat di atas : (perlakukan anak yatim itu sesuka hatimu memperlakukan anak-anak kalian setelah kalian) Namun ungkapan ini hanya menyentuh akal semata, dan tidak membuahkan pengaruh apapun dalam perasaan dalam kedalaman jiwa, kecuali jika jiwa seseorang yang kita ajak dialog sudah siap untuk menerima prinsip kemanusiaan seperti ini, sehingga kecenderungan untuk memberikan kasih sayang dan empati mampu mengalahkan kepentingan pribadi dan tarikan keinginan hawa nafsu. Mari kita baca contoh yang lain, salah satu firman Allah swt : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (12) “ Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat : 12) Dalam ayat ini Allah swt melarang ghibah dan memperingatkan kita. Lalu Allah swt menguatkan larangan yang menyentuh akal ini dengan dosa yang mengusik seluruh emosi dan perasaan, Allah lukiskan gambar buruk pelaku ghibah, dengan gambaran orang yang menyayat daging saudaranya sendiri yang sudah menjadi bangkai yang tidak ada tanda hidup sama sekali, gambaran tersebut dipaparkan di depan mata kita agar kita dapat merenunginya dengan sepenuh jiwa dan perasaan. Lalu disusul kemudian dengan pertanyaan, padahal sudah dipaparkan di depan mata kita gambaan ghibah dan hakikatnya, “Apakah engkau suka menyayat tubuh mayat kemudian engkau mengunyah dan memakannya.” Betapapun besar keinginan dan alasan seseorang untuk ghibah kepada saudaranya, ketika mendengar gambaran buruk ghibah yang terpampang nyata dalam imaginsi dan perasaan ini, tanpa pikir panjang ia akan menolak melakukannya, karena ia akan merasa jijik dan mual. Jelas masalahnya adalah penggambaran dan imaginasi, sebuah model pendidikan yang tidak ada gantinya, yang mampu menjadikan perasaan menyatu dengan akal dan pikiran. Ini adalah gambaran dari fenomena “Al Iqran asy Syarthiy”(Perbandingan bersyarat) yang mampu menanamkan pengaruh pada yang dibandingkan sebagaimana yang dirasakan pembanding, sekalipun berada dalam alam khayal saja. Setiap pelaku ghibah yang teringat dengan gambaran Al Quran, maka ia pasti berusaha untuk ikut tidak tenggelam dalam ghibah, ia pasti berusaha untuk membersihkan lidahnya dari gumpalan daging busuk, dengan penyesalan dan istighfar. Contoh-contoh metode menggugah emosi yang kami kemukakan di muka bertebaran di dalam Al Quran. Cukuplah kami sampaikan bahwa ayat kabar gembira dan buruk dibangun di atas janji dan ancaman yang dikuatkan dengan dalil dan argumen, kemudian dengan gambar yang kami jelaskan dan contohkan. Jalan pertama adalah dengan menyentuh akal dan kedua dengan menggugah emosi yang ada dalam jiwa setiap anak manusia. Ketika ayat Al Quran masuk dalam jalan yang kedua maka isinya adalah imaginasi dan perasaan jiwa, tanpa meninggalkan untuk payung akal dan pemikiran jalan yang mengotori kebeningan pandangan jiwa tersebut. Cobalah kita baca semua ayat panjang dalam Al Quran yang berisi janji dan ancaman, gambaran tetang hari kebangkitan dan pengumpulan, maka pasti akan kita dapatkan gambaran yang kami paparkan dengan jelas di muka. Bukan berarti kita mengecilkan peran akal dan pikiran kita, justru dalam hal ini ada kesatuan dan keistimewaan yang dimiliki oleh setiap akal dan perasaan. Kita membutukan keduanya untuk melakukan aktifitas perbaikan, karena salah satu dari keduanya, yakni akal, akan melukiskan dan merencanakan, sementara yang kedua , yakni perasaan, akan mendorong penerapan dan eksekusinya, salah satu dari keduanya tidak berdiri di atas sandaran di mana yang lain bersandar di atasnya. Menjadi hal yang harus kita lakukan, agar keduanya, akal dan perasaan bisa melaksanakan tugas masing-masing, maka kita harus mengkombinasikan dan memberikan keistimewaan keduanya, sehingga antara yang satu dengan yang lain tidak saling memperkeruh. Hal ini berlaku, karena menggugah emosi itu pada hakikatnya adalah menggebah gambaran yang ada dalam imaginasi dan perasaan, ketika akal ikut campur maka gambaran itu akan bias, dan hilang pengaruhnya. Sentuhan akal dan logika berpikir akan bermanfaat jika pada posisinya, ketika mengawali atau menutup peran imaginasi dann perasaan. Inilah metode yang lazim dalam Al Quran, sebuah metode yang mampu menegakkan prinsip dan nilai pendidikan dengan timbangan akal dan hangatnya emosi dan perasaan.

Konsep Tarbiyah Akhlak dalam Alquran (6)

Oleh: DR. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy* C.4. Menggugah emosi Menggugah emosi bukanlah metode pendidikan yang baik kecuali jika dimaksudkan untuk menundukkan jiwa kepada hakikat ilmiah yang benar atau pada prinsip moral baik. Menggugah emosi adalah metode pendidikan untuk sebuah hasil pendidikan yang ilmiah, bukan semata-mata tujuan yang berdiri sendiri. Metode ini sangat berbahaya sekali jika digunakan dengan cara yang salah, sebagaimna ia memiliki manfaat besar jika kita mampu melakukannya dengan baik. Konsep tarbiyah dalam Al Quran mengunakan metode ini dalam menghasilkan hal-hal berikut : Pertama , bukan sebagai ganti dari aktifitas akal dan hukumnya, namun sebagai penggugah aktifitas akal lalu emosi yang tunduk kepada hukum tersebut. Kedua, metode ini semaksimal mungkin menggunakan cara menanam image dan hayalan, bukan sebagai proses akal dan logika. ungkapan emosi menjadi minimal dalam gelombang pemikiran dan logika ilmiah. Ketiga, seorang pendidik hendaknya memadukan seluruh anasir emosi bukan hanya terpusat pada satu unsur saja. Tiga hal inilah yang dipakai Al Quran dalam seni menggugah emosi, sehingga menjadi metode tarbiyah yang berhasil dan terhindar dari mudharat yang sering kali menjadi sebab bagi timbulnya mudharat tersebut. Sekarang kita akan lihat bagaimana Al Quran dengan konsep tarbiyahnya memperhatikan tiga hal di atas, dan bagaimana Al Quran menggugah emosi dengan berdasar pada tiga syarat penting di atas : Pertama, menggugah emosi sesungguhnya bukanlah tujuan pendidikan yang dimaksud, namun dia adalah sarana yang membantu akal agar menguasai nafsu dan berkuasa atasnya. Hal ini terjadi karena ajakan Al Quran pada dasarnya lebih menyentuh akal dan fikiran, ajakan ini berkaitan dengan prinsip dan hakikat yang tidak akan sampai pada obyek dakwah kecuali dengan jalan akal dan fikiran, seperti iman kepada Allah dan keesaan-Nya, dan keyakinan bahwa hidup di dunia ini bukanlah sebuah kesia-siaan yang menuju kepada kerusakan dan kehancuran. Kita melihat bagaimana Al Quran sampai pada tujuan itu dengan jalan diskusi terbuka yang mengandung dasar logika yang detail dengan jalan perenungan dan analisa, sekalipun Al Quran dalam memaparkannya tidak menggunakan bahasa dan istilah ilmiah. Pada awalnya Al Quran menggugah akal untuk mengenali hakikat di atas dengan aneka argument ilmiah dan logika, dan membawa para pemikir untuk menggunakan akal dan pikiran mereka dengan bebas. Namun setelah itu Al Quran menggugah emosi agar memotong penghalang yang menutupi jalan akal mereka, Al Quran menggugah perpaduan rasa cemas, suka dan cinta, dengan kadar seimbang seperti dalam contoh yang akan kami paparkan sebentar lagi insyaAllah, kemudian jiwa kita tunduk kepada prinsip-prinsip dasar yang telah dijelaskan Al Quran secara nyata di depan akal kita. Renungkan ayat Allah di bawah ini, yang diawali dengan mengugah akal dan pikiran, membawanya pada kebenaran dengan sarana keilmuan dan pemikiran semata, lalu setelah itu lihatlah bagaimana ayat ini menggugah emosi, rasa takut dan cemas yang tersembunyi di dalam hati agar tidak lari jauh dari kebenaran akal dan ketetapannya yang tidak mungkin diragukan, ayat itu adalah فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ (24) أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا (25) ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا (26) فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا (27) وَعِنَبًا وَقَضْبًا (28) وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا (29) وَحَدَائِقَ غُلْبًا (30) وَفَاكِهَةً وَأَبًّا (31) مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (32) فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ (33) يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ (38) ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ (39) وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ (40) تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ (41) أُولَئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ (42) “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya kami benar-benar Telah mencurahkan air (dari langit). Kemudian kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, Lalu kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, Anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan kurma. Kebun-kebun (yang) lebat. Dan buah-buahan serta rumput-rumputan, Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua). Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri. Tertawa dan bergembira ria. Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu. Dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka Itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. 'Abasa : 24-42) Penggalan pertama teks ayat di atas berisi peringatan kepada akal akan bukti adanya sang maha pencipta dan mengimaninya, sedangkan penggal kedua menggugah emosi manusia dengan membangkitkan rasa harap dan cemas, agar selalu bersama dengan pemahaman akal dan ketetapannya, jangan sampai terpisah dan terlepas darinya. Dalam surat An Nisa Allah swt memaparkan aturan syariat Islam yang berkenaan dengan anak yatim, washiyat, nikah dan warisan, dimana semuanya ini adalah masuk dalam kategori bahasan pemikiran yang bertumpu pada kemaslahatan dan pengaturan akal semata, namun Allah swt selalu mewarnai ayat-ayat hukum di atas dengan menggugah emosi jiwa agar selalu siap untuk menerima hukum tersebut dan serta merta tunduk terhadap segala hal yang telah diputuskan oleh akal. Allah swt berfirman : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (1) وَآتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا (2) “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu. Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.” (QS. An Nisa : 1-2) Kita melihat bagaimana Allah menggerakkan emosi para pendengar atau pembaca yang ada di sekitar para pendengarnya, yang masih satu jenis, dan menggerakkan kesatuan rasa kasih dan sayang yang tersimpan di dada mereka, lalu mereka saling mengikat kasih sayang itu di antara mereka, sekaligus juga menjaga faktor keutuhan dan kesuciaannya. Kemudian pada sisi yang lain, Allah swt memperingatkan adzab yang harus dicemaskan oleh setiap jiwa, apabila mereka menyia-nyiakan atau meremehkan urusan mereka, sehingga ketika perasaann ini telah menetap dalam hati, maka hati pun akan siap untuk menerima peerintah, washiyat untuk menjaga keutuhan mereka dan juga kasih sayang dan keakraban yang telah terbina di anatara mereka, lalu Allah memulai ayat berikutnya : “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk.” (QS. An Nisa : 2). Seluruh ayat dalam Al Quran tidak jauh dari gaya bahasa ini, mewarnai setiap dialog aqliah dengan melakukan sentuhan pembuka, sentuhan emosi yang menggugah dan mengingatkan, atau menutup setiap pembahasan ilmiah dengan penutupan rasawi yang mengingatkan jiwa kita akan akibat penolakan dan pembangkangan terhadap akal. Dari sisi ini kita menjadi tahu, betapa bahayanya tarbiyah berpegang pada emosi dan perasaan sebagai tujuan utama dan bukan sarana, yang dilakukan tanpa ada sentuhan akal yang menjadi jantung pemikiran yang diyakini dan dicenderungi. Jika yang terjadi seperti ini, maka jiwa kita tidak akan bergerak kecuali hanya bergolak, bersentuhan dengan emosi kosong semata, sehingga ia tidak menangkap kecuali hanya dorongan emosi akal semata, dan tidak berapa lama kemudian emosi itu hilang begitu saja dan kekuatannya lemah di bawah kendali gelombang perasaan yang tidak memilki sandaran apa-apa. Usaha yang berbahaya ini menjadi sarana empuk orang-orang yang ingin menguasai orang lain untuk mengikuti segala hal yang tidak bersandarkan kepada kekuatan akal dan kebenaran ilmiah. imaginasi dan khayalan liar semata, akan menjadikan pelaku dan akalnya tunduk hina di bawah pengaruhnya.

Konsep Tarbiyah Akhlak dalam Alquran (5)

Oleh: DR. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy* C.3. Kisah dan sejarah peradaban Kisah dan pembahasan sejarah memiliki urgensi tersendiri dalam bidang tarbiyah. Namun yang menjadi perhatian kita sekarang bukan bagaimana kisah itu disampaikan, tapi bagaimana mengenali metode tarbiyah Al Quran, yang menjadi tujuan utama ditampilkannya kisah dalam Al Quran. Al Quran memiliki konsep detail tentang metode tarbiyah, yang kami ringkas dalam beberapa poin berikut ini : Pertama, Al Quran tidak memaparkann kisah kecuali ketika kisah itu memiliki tujuan yang sama dengan apa yang dimiliki oleh Al Quran, agar kisah itu memiliki kaitan yang kuat dengan kontek yang mengharuskan kisah itu dimunculkan, sehingga kisah menunjukkan urgensi dan membawa kepada gerak dan hidup dinamis. Karena itu kisah dalam Al Quran itu tidak muncul begitu saja dengan paparan kejadian historis, hanya menceritakan kronologi peristiwa belaka, jika yang terjadi seperti itu maka kisah itu akan menjauhkan pembaca kisah dari kontek dan tujuan kisah itu dimunculkan. Misalnya saja kita membaca kisah Ashabul kahfi : نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى (13) وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا (14) “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya kami kalau demikian Telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran". (QS. Al Kahfi : 13-14) Kita lihat ayat ini mulai kisahnya dengan mendeskripsikan ashabul kahfi sbagai kelompok anak muda yang mengisolasi diri mereka dari kaum mereka yang kafir, lalu mereka beriman kepada Allah yang Maha Esa, karena keimanan inilah mereka menjauhi kaum mereka dan berpindah ke puncak gunung yang tinggi dan dalam gua. Siapakah mereka ini, pada masa siapakah mereka hdup, berapa jumlah anak-anak muda itu, siapakah nama-nama mereka ?? Cerita sejarah akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, namun jika kisah Al Quran menyentuh seluruh sisi cerita seperti buku sejarah, maka kisah itu akan jauh dari tujuan Al Quran, bisa jadi pikiran pembaca akan terpokus paada kronologis sejarah dan terbawa dalam mendalaminya, sehingga lalai dari pelajaran dan nasehat yang menjadi tujuan inti dari kisah Al Quran. Inilah rahasianya, mengapa Al Quran memaparkan kisah-kisahnya hanya sepotong-sepotong saja, rahasai tersembunyi yang hanya diketahui oleh orang-orang yang merasakan kebutuhan akan kisah Al Quran yang dijelaskan dengan detail dan lengkap, dimana kebutuhann ini tidak muncul kecuali karena sifat kebanyakan manusia yang selalu ingin tahu dan ingin kisah yang panjang. Kalau keinginan ini dipenuhi, maka pikiran mereka lupa pada asal mula kisah dipaparkan dalam Al Quran sebagai sumber hidayah dan tema-tema yang berkaitan dengan hidayah. Namun ini bukan berarti kisah-kisah yang ada dalam Al Quran miskin sentuhan seni dan hanya potongan kisah yang tidak bermakna. Justru kish-kisah dalam Al Quran kaya akan sentuhan seni yang sempurna, yang berdiri diatas konsep sastra yang sepi dari kekurangan maupun cela. Bahkan sisi sastra dalam kisah Al Quran aadalah di antara mukjizat yang paling menonjol dalam Al Quran. Tidaklah termasuk dalam syarat baik dan bernilainya sebuah kisah, lengkapnya peristiwa yang dipaparkan, tapi itu tergantung kebutuhan dimana kisah dipaparkan, apabila yang dimaksud adalah untuk mengambil pelajaran, maka dari sisi tarbiyah yang harus dilakukan adalah fokus pada satu sisi cerita, bukan pada keseluruhan sisi cerita sehingga membuat kabur dan jauh dari tujuan kisah itu dipaparkan. Kedua, menyelipkan nasehat dan pelajaran di tengah cerita. Konsep tarbiyah yang di terapkan disini bertujuan agar si pembaca kisah tidak menjadi larut dalam bacaannya, menjadi fokus pada cerita dengan seluruh pikiran, setelah lama ia tenggelam kemudian hilanglah pesan utama kisah itu. Inilah ganjalan yang terjadi dalam memfungsikan cerita sebagai sarana pendidikan dan perbaikan moral, karena secara perlahan pembaca akan terjjauhkan dari pesan utama kisah, karena tenggelam dalam detail kronologi dan jalannya kisah, yang memberikan pengaruh besar pada diri si pembaca. Apabila seorang murabbi maupu menagatasi ganjalan ini, maka ia akan menggunakan gaya bahsa kisah yang bijak, yang tidak menjauhkan pembaca dari makna tarbiyah yang terkandung di dalamnya, kisah pun menjadi sarana paling efektif dalam pendidikan, dan inilah konsep Al Quran dalam memaparkan kisah-kisahnya. Allah kisahkan kepada kita tentang Nabi Musa dan Harun dalam Al Quran surat Thaha, ketika pembaca tenggelam dalam sub-sub cerita, dan pendengar lalai dari pesan utama dalam cerita, dengan merenungi seluruh cerita dan yang aneh di alamnya, tiba-tiba si pembaca dikagetkan dengan gaya bahasa yang indah di tengah cerita, mengingatkan pendengar kepada pelajara, nasehat dan petunujuk yang menjadi tujuan utama bagi dipaparkannya cerita. Ketika bahasa indah yang mennyela itu memiliki pengaruh yang nyata, maka kisah itu pun mleanjutkan kembali kisahnya dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Marilah kita renungkan lagi salah satu kisah yang dipaparkan oleh Al Quran, kisah tentang Nabi Musa dan Harun As. قَالَ فَمَنْ رَبُّكُمَا يَا مُوسَى (49) قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى (50) قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَى (51) قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى (52)الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّى (53) كُلُوا وَارْعَوْا أَنْعَامَكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِأُولِي النُّهَى (54) مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى (55) وَلَقَدْ أَرَيْنَاهُ آَيَاتِنَا كُلَّهَا فَكَذَّبَ وَأَبَى (56) “Berkata Fir'aun: "Maka siapakah Tuhanmu berdua, Hai Musa? Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang Telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, Kemudian memberinya petunjuk. Berkata Fir'aun: "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?" Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa; Yang Telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang Telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Dari bumi (tanah) Itulah kami menjadikan kamu dan kepadanya kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain, Dan Sesungguhnya kami Telah perlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan kami semuanya Maka ia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran).” (QS. Thaha : 49-56) Perhatikan bagaimana Al Quran memotong kisahnya, agar terlihat dengan cerdas dan bijak masalah penting dibalik berpindahnya dialog antara firaun dan Nabi Musa, kepada dialog Allah dengan hamba-Nya, yang memperlihatkan nikmatnya yang besar dan peringatan akan balasan buruk atas keburukan, juga betapa keras dann dahsyatnya siksa Allah, sehingga kisah ini sarat dengan nuansa hidayah dan petunjuk, kemudian pendengar dialihkan kembali setelah itu, kepada tujuan besar kisah itu dipaparkan paada awalnya, hal itu kita lihat dari firman-Nya : وَلَقَدْ أَرَيْنَاهُ آَيَاتِنَا كُلَّهَا فَكَذَّبَ وَأَبَى “Dan Sesungguhnya kami Telah perlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan kami semuanya Maka ia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran).” (QS. Thaha : 56) Renungkan konsep tarbiyah seperti ini juga dalam kisah Ashabul Kahfi, bagaimana Al Quran dengan gaya bahasa tarbiyahnya yang penuh mukjizat pada awal kisah, dengan menyuratkan pelajaran sekilas yang mampu menggugah hati dari kelalaian, lalu Al Quran selipkan nasehat dengan gaya bahasa yang indah dan menarik, lalu setelah itu kembali kepada jalannya kisah. Allah swt berfirman : سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا (22) وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (23) إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا (24) وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِئَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا (25) “Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka. Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya Aku akan mengerjakan Ini besok pagi, Kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini". Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (QS. Al Kahfi : 22-25) Kita baca surat Yusuf as yang mengkisahkan yusuf bersama saudara-saudaranya serta pembesar Mesir, sebuah kisah yang panjang, yang disusun untuk mengukuhkan kebenaran Al Quran sebagai firman Allah dan Rasulullah saw tidak berperan dalam penysusunannya, kita melihat banyak ayat yang memotong kisah-kisah itu, agar pembaca selalu sadar kembali pada pelajaran dan nasehat yang aada di dalam kisah, setelah ia tenggelam dalam lautan kisah yang mengasyikkan dan melenakan, lihat firman Allah swt ; يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (39) مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآَبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (40) “ Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali Hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. dia Telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf : 39-40) Lihatlah kembali firman Allah swt : قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ (55) وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (56) وَلَأَجْرُ الْآَخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (57) وَجَاءَ إِخْوَةُ يُوسُفَ فَدَخَلُوا عَلَيْهِ فَعَرَفَهُمْ وَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ (58) “Berkata Yusuf: "Jadikanlah Aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya Aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". Dan Demikianlah kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (Dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. kami melimpahkan rahmat kami kepada siapa yang kami kehendaki dan kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan Sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Dan Saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir} lalu mereka masuk ke (tempat) nya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya.” .(QS. Yusuf : 55-58) Sesungguhnya bahasa cerita yang dibalut dengan ruh ibrah dan mauidhah, dan diwarnai oleh kata-kata dan ungkapan petunjuk dari pengkisah kepada pendengar maupun pembaca, tanpa merusak, merancukan dan menghilangkan nilai seni kisah tersebut adalah metode tarbiyah yang berhasil, yang tidak kita dapatkan kecuali dalam kitab Allah swt. Betapa banyak kita lihat kisah-kisah yang dibalut dengan bahasa pendidikan dan arahan, disebarkan kpada kebanyakan manusia dengan bahasa pengajaran dan penyadaran, namun seringkali kisah ini tidak memberikan hasil yang menggembirakan, karena pesan kisah dengan kronologi peristiwa-peristiwa yang ada di dalamnya mengalahkan makna ibrah dan arahan yang imaksud, para pembaca dan pendengar lebih bisa menikmati kronologi cerita dan peristiwa yang ada dalam kisah dan melalaikan ibrah ataupun intisari dari cerita. Namun perlu kita ketahui, model pendidikan seperti ini tidak hanya kita lihat dalam kisah Al Quran saja, namun juga tema-tema lain yang disentuhh oleh Al Quran, Al Quran tidak akan membuat pembaca tenggelam dalam satu tema bahasan baikk itu hukum fiqh, aqidah, berita tentang yang ghaib, ataupun cerita tentang gambaran hari kiamat. Semua tema bahasan ini diredaksikan dengan bahasa arahan dan petunjuk, dan maksud Al Quran diturunkan akan menjadi nyata dan jelas dalam setiap tema bahasan tersebut, agar hati kita tidak lalai dari tujuan utama ini sekalipunn kita telah terbawa ke dalam pembahasan detail tema-tema yang kita lakukan. Perhatikanlah firman Allah swt : شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (185) وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (186) أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ “Maka barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” (QS. Al Baqarah : 185-187) Kita melihat dalam ayat ini, bagaimana Allah swt menyelipkan ayat ini di antara ayat puasa dan hukum-hukum yang terkait dengannya, untuk mengikat hati manusia kepada inti ibadah kepada Allah, dan kepada prinsip dasar yang menjadi pokok dari cabang hukum-hukum detail yang bernaung di bawahnya. Kita melihat juga dalam surat An Nisa, hukum washiyat, nikah, warisann dan lainnya ayat mauidhah dan isrsyad akan selalu terselipkan di dalamnya, bahkan gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa nasehat, bukan gaya bahasa ilmiah yang kaku. Adalah sangat ironi, ketika kita menyaksikan sebagian para penggagas ilmu tarbiyah yang berwawasan luas, melupakan konsep tarbiyah Al Quran ini yang seharusnya mereka ketahui, kalau memang mereka termasuk orang-orang yang memilki peran besar dalam mengarahkan dan mengembangkan wawasan masayrakatnya, bahkan mereka malah sibuk melakukan kritik terhadap konsep tarbiyah Al Quran iini, dengan mengatakan : “Mengapa pembahasan Al Quran sangat rancu, tidak terstruktur dengan baik dalam pasal dan bab seperti buku-buku dan karangan yang lain ?” Kita bertanya : “Apakah pengaruh tarbiyah dan nasehat yang kami bicarakan akan ada, seandainya kitab Al Quran ini tersusun seperti yang kalian inginkan, ada bab aqidah dengan dalil-dalilnya, ada bab hukum dan muamalat, ada bab kisah dan sejarah dan begitu seterusnya....?” Setiap orang yang mendatangi Al Qurann dengan hanya memfokuskan pada bab hukum saja misalnya, maka ia akan lupa kepada Al Quran dan tujuan besarnya, kecuali pemabahasan hukum yang kering kerontang yang mengenyangkan pemahaman akal pemikiran semata, sebagaiman yang dilakukan oleh para ahli fiqqih, ketika mereka membahas masalah gadai misalnya, maka mereka akan lupakan Allah dan juga tujuan besar dibalik ilmu fiqih tersebut, bisa jadi para ahli fiqih itu jauh dari Allah pada saat itu, melebihi jauhnya orang-orang yang berdzikir di tengah keramaian pasar dan sentra bisnis. Orang-orang yang mendatangi Al Quran dari sisi kisah dan sejarahnya, maka ia akan melupakan Al Quran, dirinnya dan tanggung jawabnya, karena ia telah tersedot perhatiannya pada bacaan dan yang ia dengar, yang berisi kronologi peristiwa dan kejadian-kejadian yang asing, dan tenggelam di dalamnya. Al Quran dengan kissah, hukum, aqidah dan pembahasan-pembahasan lainnya tidaklah diturunkan kecuali karena satu tujuan, yakni agar manusia menjadi hamba Allah swt, dengan ketaatann maupun usaha, sebagaimana Allah ciptakan manusia dengan kekuasaan dan hak prerogratifnya. Tujuan besar ini tidak akan tercapai kecuali jika pembahasan-pembahasan di atas saling berkaitan dan saling melengkapi, dalam kendali semangat nasehat dan arahan. Kalau kita renungkan lebih dalam, musibah ilmu pengetahuan dan segala wawasan yang diterima oleh anak kita di bangku sekolah mereka, ilmu dan wawasan mereka tidak membawa mereka kepada ketinggian dan kemuliaan pendidikan, sekalipun tujuan pertama dari pengembangan ilmu dan wawasan pengetahuan itu adalah demi pendidikan. Tidak ada solusi yang mampu memecahkan masalah ini, selain dengan mengkoreksi penyusunan aneka ilmu pengetahuan dan wawasan itu, dan dituilis ulang dengan konsep Quraniy sebagaiamana yang telah kami paparkan di muka, sehingga ada semangat pendidikan dan perbaikan akhlak di dalamnya. Dengan konsep seperti ini maka ilmu pengetahuan dan wawasan keilmuan semuanya bersatu dan bertemu dalam tujuan pokok pendidikan yang menjadi tujuan awal dari pengajaran ilmu pengetahuan dan wawasan itu sendiri.

Konsep Tarbiyah Akhlak dalam Alquran (4)

Ketiga, pendekatan dialog dan diskusi Al Quran memiliki gaya bahasa yang sangat unik dan memikat, Al Quran mengajak dialog dan diskusi, mengajak untuk menggunakan pengamatan kepada bukti-bukti, memaparkannya, membiarkan buah dan hasil semua usaha di atas terbuka, tanpa ada teks tersurat tentang hasil di atas bahkan Al Quran mengajak mitra dialognya aktif untuk mengkorelasikan dan mengambil kesimpulan akhir. Ini adalah kebaikan dari metode dialog yang selalu dibuka dengan pertanyaan dan diskusi masalah. tujuan besarnya adalah menggiring anak didik kepada metode ilmiah dengan cepat sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para pendidik dan pengajar mereka. Adalah musibah besar ketika seorang pendidik menggunakan metode ceramah dan monolog saja, dimana ia hanya melakukan ceramah, kemudian menunjukkan hasil dari ceramahnya, sementara pendengar atau anak didik hanya mendengar, atau hanya tidak mau memperhatikannya dan justru sibuk dengan pikirannya, tanpa menghasilkan ilmu dan pemahaman sedikitpun. Begitu juga seandainya seorang prendidik yang pandai berdiskusi dengan anak didiknya, lalu menjelaskan kesimpulannya di tengah diskusi itu maka itu tidak akan membuahkan hasil tarbiyah yang memuaskan. Bisa jadi metode dialog memiliki tujuan tertentu, untuk menyingkap pengingkaran orang kafir, sekaligus juga menunjukkan kebenaran yang mereka pura-pura tidak mengetahuinya. Pendekatan dialogis ini akan menggerakkannya dan membawanya pada penyingkapan keburukan pilihannya sekaligus juga kebusukan hatinya, tujuan ini tidak akan tercapai kecuali dengan mendorong pada pengamatan bukti-bukti dan membahasnya dengan jalan dialog dan diskusi, sehingga muncul kesimpulan akhir, tanpa ada teks sedikitpun yang tersurat dari penddidik yang melakukan diskusi tersebut. Lihatlah beberapa ayat terakhir dari surat An Naml : قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آَللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ (59) أَمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ (60) أَمْ مَنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (61) أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ (62) أَمْ مَنْ يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (63) أَمْ مَنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (64) “Katakanlah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?" Atau siapakah yang Telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang Telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak Mengetahui. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di dataran dan lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya). Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), Kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi? apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)?. Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. An Naml : 59-64) Di dalam beberapa ayat ini, ada pendekatan dialogis dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang mampu menggugah akal dan menggebah pikiran kita, dan tidak ada jawaban tersurat dalam ayat-ayat tersebut, sebagai gantinya ayat-ayat itu mengalihkan pandangan kita kepada kebenaran jawaban yang pasti dikenali dan difahami secara otomatis oleh akal pikiran kita. Ia melontarkan pertanyaan demi pertanyaan dan mengharapkan respon jawaban dari kita, namun begitu kita sedikit tenggelam dalam pertanyaan dan respon jawaban yang seharusnya, ayat-ayat tersebut mengalihkan perhatian kita kepada akar masalah yang menyebabkan pengingkaran orang kafir, “Karena mereka berpaling dari Allah swt, mereka tidak memiliki kemauan sedikitpun untuk memahami hakikat alam semesta ini yang kaya dengan bukti-bukti akan keberadaan dan keesaan Allah swt, mereka tidak ingin mengenang lagi asal muasal dan perkembangan proses penciptaan mereka. Kalau saja mereka ingat, bersikap adil, maka mereka pasti akan menenukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, dan mereka beriman dengan penuh ketulusan dan ketundukan.” Allah swt paparkan ayat berikut ini: “Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” (QS. An Naml : 60) sebagai ganti dari jawaban yang ditunggu, alasan mereka diam tanpa memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan di atas yang berkaitan dengan Dzat yang meniptakan langit dan bumi, yang menurunkan hujan dari awan yang bergerak adalah karena mereka berpaling dari Allah swt kepada makhluk ciptaan-Nya. Alasan mereka diam tanpa memberikan jawaban atas bebrapa pertanyaan di atas yang berkaitan dengan Dzat yang menjadikan bumi sebagai tempat tinggal, yang menciptakan gunung sebagai tiang pancang di detiap sudutnya, adalah karena mereka tidak ingin tahu detail dan rahasia alam semesta ini, alasan mereka diam tanpa memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan di atas yang berkaitan dengan Dzat yang mengkabulkan doa orang yang terjepit suatu masalah, dengan penuh ikhlash dan ketundukan, adalah karena mereka tidak pernah mengingat moment-moment seperti ini yang melewati jalan hidup mereka, dan begitulah seterusnya. Metode dialog ini telah menyingkap pengingkaran orang-orang musyrik, menjauhkan sikap ingkar mereka sekaligus juga menghilangkan kekuatan keraguan dan kepura-puraan mereka. Sehingga mereka menjadi bahan pelajaran bagi yang lain jika masih terus menerus ingkar bersama mereka, atau dialog ini menjadi pelajaran untuk mereka sendiri jika mereka menyadari akan bukti-bukti keimanan dan bersikap jujur kepada diri mereka sendiri. Perhatikanlah firman Allah swt, di mana Allah swt mengajak dialog orang-orang kafir : أَمْ تَأْمُرُهُمْ أَحْلَامُهُمْ بِهَذَا أَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ (32) أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ (33) فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ (34) أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ (36) أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُسَيْطِرُونَ (37) أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (38) “Apakah mereka diperintah oleh fikiran-fikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan Ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas? Ataukah mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) membuat-buatnya". Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka Telah menciptakan langit dan bumi itu?; Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa? Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata.” (QS. At Thur : 32-38) Ayat-ayat di atas dan yang setelahnya memaparkan kepada kita beberapa asumsi yang mungkin, dari pertanyaan mengapa orang kafir ingkar terhadap Allah swt, kemudian menunjukkan kesalahan mereka dengan cara yang unik, tidak menafikan asumsi-asumsi itu dengan bahasa negatif yang kaku, karena penafian asumsi dengan cara seperti ini justru semakin membuat mereka keras dan ingkar. Namun ayat-ayat ini mengajak mereka berdialog untuk merunut kesalahan mereka, tanpa menampakkan secara nyata kesalahan pada akal dan pikiran mereka. Setiap dialog dan diskusi atas semua asumsi yang dimungkinkan, menyertakan kaidah-kaidah logis yang mampu membawa akal kepada hakikat kenbenaran dan menjauhkan bias kebenaran darinya, namun diskusi yang dilangsungkan tidak memakai bahasa hukum yang kaku, namun dialog di bangun di atas semangat dan ruh hukum kebenaran yang bisa difahami oleh setiap orang yang memilki akal. Asumsi pertama adalah, Rasulullah saw telah mengada-adakan Al Quran, karena sangatlah mudah jika selain Beliau mampu untuk membuatnya, mereka mampu mengadakan Al Quran atas nama Allah, dengan gaya bahasa dan balaghah yang tinggi, jika mereka telah melakukannya maka klaim mereka adalah benar adanya. Asumsi kedua, di samping manusia ada makhluk yang ada tanpa ada pencipta, mereka lahir begitu saja di dunia tanpa awal atau materi apapun. Ayat ini mengangkat asumsi kedua ini dengan gaya bahasanya yang jitu, mampu mengalihkan perhatian mereka kepada sikap “Rujhanusy syai' biduuni murajjih” (mengunggulkan sebuah pendapat yang dikuatkan tanpa penguat sedikitpun), yang mana sikap ini adalah mustahil bagi akal untuk menerimanya. Tidak mungkin sesuatu itu muncul setelah tidak ada kecuali karena adanya sebab yang memunculkannya, tanpa sebab ini maka tidak akan beralih dari ketidakadaannya semula, karena asalnya sesuatu itu adalah tetapnya sesuatu dalam kondisi semula. Asumsi ketiga, prasangka mereka bahwa mereka mengadakan diri mereka sendiri. Ayat ini mengangkat asumsi ketiga ini dengan gaya bahasanya yang jitu, mampu mengalihkan perhatian mereka kepada sikap mengklaim kebenaran “daur” (lingkaran setan) yang mustahil diterima oleh akal. Daur adalah apabila keberadaan sesuatu tergantung kepada dirinya sendiri, dia adalah sebab sekaligus juga akibat itu sendiri dalam satu waktu. Ini adalah sesuatu yang mustahil dan batil adanya. Perhatikanlah bagaimana Al Quran dengan bahasa dialognya menunjukkan kesalahan orang-orang kafir yang mengajak kepada sikap daur dan Ar Rujhan biduni murajjih, sehingga secara otomatis klaim mereka pun berguguran. Al Quran menempuh jalan ini tanpa menggurui, tidak mengajarkan hal yang mereka tidak ketahui, atau memberikan kesimpulan akhir secara langsung kepada mereka. Al Quran hanya membawa pikiran mereka kepada timbangan logika dan ilmu, dan membiarkan mereka dalam timbangan tersebut, padahal mereka sebelumnya telah mengenakan seragam masa bodoh, pura-pura tidak tahu dan menutup mata. Dan yang lebih dahsyat lagi adalah Al Quran dalam dialog ini, hanya membawa kaidah pemikiran yang logis, tanpa menggunakan istilah yang dikenal oleh sebagian orang, sehingga pengetahuan dan pemahaman ini bisa diterima oleh semua kalangan, sejauh apapun wawasan mereka, setinggi apapun level pengetahuan mereka, selama mau menggerakkan otaknya dengan bebas merdeka, dibarengi dengan pengamatan dan pikiran jernih. Kemudian renungkanlah beberapa ayat berikut ini : أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ (63) أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ (64) لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ (65) إِنَّا لَمُغْرَمُونَ (66) بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ (67) أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ (68) أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ (69) لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ (70) أَفَرَأَيْتُمُ النَّارَ الَّتِي تُورُونَ (71) أَأَنْتُمْ أَنْشَأْتُمْ شَجَرَتَهَا أَمْ نَحْنُ الْمُنْشِئُونَ (72) نَحْنُ جَعَلْنَاهَا تَذْكِرَةً وَمَتَاعًا لِلْمُقْوِينَ (73) “Maka Terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau kamikah yang menumbuhkannya? Kalau kami kehendaki, benar-benar kami jadikan dia hancur dan kering, Maka jadilah kamu heran dan tercengang. (sambil berkata): "Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian", Bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa. Maka Terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau kamikah yang menurunkannya? Kalau kami kehendaki, niscaya kami jadikan dia asin, Maka mengapakah kamu tidak bersyukur? Maka Terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau kamikah yang menjadikannya? Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir.” (QS. Al Waqiah : 63-73) Ini adalah dialog lain yang berusaha menyampaikan pesan bahwa kita harus yakin akan keberadaan Allah dan keesaan-Nya, dengan memfokuskan segenap perhatian dan pikiran kita kepada beberapa fenomena yang muncul di permukaan alam semesta ini. Bagaimana caranya agar kita sampai paada keyakinan ini ? Cara menyingkap kebenaran ini adalah dengan berdalil kepada asas “Al Illah al Ghaiyyah” (sebab yang bertujuan) yang menunjukkan eksistensi seluruh makhluk di alam semesta ini, dalam kerangka tujuan yang bersesuaiaan dengan tabiat manusia dan kebutuhannya, karenanya mustahil kita mengatakan bahwa keberadaan semua makhluk ini adalah secara tiba-tiba. Hanya saja dialog Al Quran dalam menjelaskan hakikat ini tidak menggunakan bahasa ilmiah dan istilah-istilah kita sekarang, Al Quran hanya menuntun akal dengan dialog, yang membawa pikiran kepada hasil yang telah dicapai oleh kaidah ilimiah dengan bahasa ilmiah dan istilah-istilah yang dikenal, pikiran kita sebenarnya tidak perlu sedikitpun kepada prinsip-prinsip, istilah dan kaidah ilmiah, tapi ia butuh kepada fitrah lurus yang bisa merenung dengan jujur dan jernih. Al Quran memfokuskan pengamatan kita kepada tanaman yang membuat bumi jadi hijau, belum sampai kita berfikir tentang bahan makanan yang tumbuh di atasnya yang menjadi sumber penyangga kekuatan hidup kita, Al Quran pun bertanya : “Apakah engkau wahai manusia yang menumbuhkan tanaman ini dari dalam bumi, yang engkau persangkakan tumbuh dengan sendirinya, sesuai hukum alam dan tabiatnya, kalau Allah berkehendak Allah pasti akan memerintahkan hukum alam itu tidak berlaku, dan tanaman yang tumbuh di atasnya menjadi kering kerontang, tidak mungkin alam memiliki kekuatan atau tujuan tertentu sehingga memposisikan diri sebagai penjamin bagi kehidupan dan keberadaan kalian semua di bumi.” Kemudian Allah mengalihkan pandangan kepada air yang menjadi sumber utama bagi kehidupan manusia, Allah bertanya kepada orang-orang yang mengingkarinya : “Apakah kalian yang memeras air dari awan dan menundukkan gas air yang mengantung di antara laut dan langit kepada aturan hujan, ini adalah hukum alam dan tabiat yang bergerak tanpa campur tangan manusia bukan ?” Kalau Allah berkehendak maka pasti Dia jadikan air hujan itu pahit getir atau sangat asin yang membakar mulut setiap orang yang meminumnya dan bumi yang menyerapnya, sehingga kalian tidak bisa memakainya untuk mengairi tanaman dan kerongkongan kalian, kalian tidak memiliki kekuatan sedikitpun untuk menguasai laut, gas, kondisi basah dan hujan dan merubah segala kehendak Allah atas semuanya. Kemudian Allah mengalihkan pandangan mereka kepada bahan api dan pohon unik yang bisa menghasilkan bara api, yaitu pohon markh dan 'ifar, dan bertanya : “Apakah kalian membuat kesepakatan dengan alam untuk menumbuhkan pohon ini, dan menyimpan unsur bara api di dalamnya ?” Kalau semuanya berada dalam kendali alam, maka api akan buta tak tahu arah, sehingga api ini tidak memiliki kesesuaian dan hubungan sama sekali dengan kehidupan kalian. Jika kalian tidak akan memiliki kekuatan atau cara apapun untuk memanfaatkannya, apakah kalian tidak melihat bahwa kami Allah telah menjadikan api ini sebagai sarana hidup kalian, apapun varian dan perkembangannya, dan juga sarana untuk mendapatkan rizki dengan cara tradisional maupun dengan teknologi yang rumit. Jadi dasar diskusi utama kita, seperti yang anda lihat, adalah mengalihkan perhatian kita, bahwa bukanlah merupakan keharusan apabila fenomena alam semesta yang ada di sekitar kita berlaku seperti saat ini sesuai dengan kebutuhan dan saran hidup kita. Bahkan adalah suatu hal yang mungkin jika kondisi alam semesta yang ada disekitar ini kondisinya tidak seperti sekarang ini, atau bersesuaian dengan kondisi hidup kita saat ini, dan bagi alam tidak memiliki peran sama sekali dalam asumsi ini. Namun Yang Maha Agung dan Maha Mengaturlah yang menjadikan alam seperti saat ini, menjadikannya sesuai dengan perjalanan kehidupan, dan berjalan beriringan dengan sarana-sarana yang meramaikan alam semesta ini. Inilah makna yang ingin ditegakkan dengan sederhana dalam pendekatan dialog Al Quran, yang bisa difahami oleh setiap orang yang berakal dan mau merenungi ayat-ayat Al Quran, makna ini sama persis dengan yang disampaikan dengan panjang lebar oleh para ulama aqidah dan pengagum filsafat, dengan menggunakan istilah ilmiah tertentu, seperti “al illat al ghaiyyah”, “nidhamul ahkimah” dan “tadbir.” Namun makna ini sangat tertutup dan menjadi rahasia yang tidak difahami kecuali oleh ulama yang menguasai disiplin ilmu tersebut, sementara di dalam ayat Al Quran ia adalah makna yang yang terbuka, jelas dan bisa difahami, bahkan mudah difahami, berkat pendekatan dialogis yang digunakan untuk mengungkapkannya. Berdiskusi bicara tentang penerapan pendekatan dialogis ini dalam Al Quran butuh waktu yang lama, sebuah diskusi yang sangat indah dan bermanfat, namun di sini bukan tempatnya kita berlama-lama dan sampai mendetail. Kami hanya ingin mengalihkan pandangan para pengamat tarbiyah dan aliran-aliran yang ada di dalamnya pada sisi ini, mengajak mereka untuk melakukan studi serius, dan pada akhirnya mereka tahu betapa mereka sangat perlu mengetahui dan mendalaminya dibanding metode tarbiyah modern yang bermanfaat. Sumber : http://www.eramuslim.com/manhaj-dakwah/krisis-akhlaq/konsep-tarbiyah-dalam-alquran-4.htm

Konsep Tarbiyah Akhlak dalam Al-Quran (3)

Oleh: DR. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy* Kedua, Pemilihan gaya bahasa yang sesuai dengan tingkat pengetahuan umum manusia. Pemilihan gaya bahasa yang sesuai dengan tingkat pengetahuan umum manusia, sekalipun mereka berbeda lingkungan, wawasan dan zaman. Bukanlah merupakan sarana yang baik, jika gaya bahasa dakwah dan pengajian hanya cocok unuk satu kalangan dan tidak cocok untuk kalangan yang lain. Ini adalah syarat paling berat dalam konsep tarbiyah yang mampu menyentuh seluruh lapisan masayarakat manusia, betapa banyak dai yang gagal dalam dakwahnya, dilihat dari sisi konsep dan bahasanya, karena mereka tidak menguasai artikulasi bahasa dan orasi yang menyentuh level umum pemahaman pendengar maupun para peserta didik. Dari sisi ini kita melihat fenomena mujizat yang agung dalam Al Quran, karena kitab ini mampu berdialog bersama pembaca dan pendengarnya dengan sarana bahasa yang sesuai dengan level pemahaman mereka, semua lapisan masyarakat, tanpa meninggalkan jejak cacat dalam pemahaman ataupun kontradiksi di antara beberapa pemahaman. Bukan berarti kami mengeluarkan jaminan pasti, bahwa semua anak manusia mampu mencerna isi Al Quran tanpa proses belajar dan mengkaji, namun kami katakan ini akan terjadi jika mereka semua memiliki kemampuan yang sama dalam memahami kaidah-kaidah dan gaya bahasa arab. Semua akan memiliki pemahaman yang sama tentang maksud kitab ini, setelah mereka sama-sama memiliki kemampuan bahasa arab sebagai sarana belajar dan kajian mereka terhadap kitab Al Quran. Cobalah kita perhatikan firman Allah swt : أَلَمْ نَجْعَلِ الأرْضَ كِفَاتًا (25) أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا (26) وَجَعَلْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ شَامِخَاتٍ وَأَسْقَيْنَاكُمْ مَاءً فُرَاتًا (27) “Bukankah kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul, Orang-orang hidup dan orang-orang mati. Dan kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan kami beri minum kamu dengan air tawar?.” (QS. Al Mursalat : 25-27) Renungkan kata كِفَاتًا “Kifata” yang memiliki makna menarik dan mengumpulkan, kita bisa lihat dalam sebuah bait syair : كــرام حـين تنـكـفت الأفـاعي إلى أحـجـارهـن مـن الـصـقـيـع Mereka mulia ketika lubang-lubang itu menarik ular-ular bersembunyi karena udara dingin yang menusuk Ayat ini memberikan gambaran tentang bumi sesuai dengan level pemahaman orang arab badui, di mana mereka memahami dari ayat ini, bumi adalah mirip seperti wadah yang mampu menjaga dan mengamankan segala hal yang ada di dalamnya, ini adalah pemahaman yang benar, karena memang seperti itulah kenyataannya. Gambaran ini sama persisi dengan penelitian para ilmuwan dan peneiti bumi dan antariksa, seorang ilmuwan yang bernama Tsabit bin Qurrah (221-228) menyatakan bahwa manusia bisa menetap di bumi ini karena adanya kekuatan tersembunyi yang menariknya. kalau bukan karena kekuatan ini, maka manusia tidak akan mungkin bisa menetap di bumi, kekuatan ini belakangan kita kenal dengan daya gravitasi bumi. Tidak ada kata yang mampu menjembatani pemahaman tradisional seorang baduwi dengan penemuan para ilmuwan pada era modern sekarang ini kecuali kata “kifata”. Mari kita perhatikan firman Allah swt berikutnya yang juga menjelaskan satu sisi gambaran bumi : وَالأرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا (30) أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا (31) “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.” (QS. An Naziat : 30-31) Kata دَحَاهَا “dahaha” dalam bahasa arab artinya adalah menghamparkan, membesarkan dan mebulatkannya, sebagaimana dijelaskan dalam kamus al Muhith. Ketiga makna ini ternyata tercakup dalam realitas bumi, karena bumi bersifat terhampar, besar dan bulat. Seorang badui yang hidup di pedalaman memahami makna yang pertama dan kedua, adapun ahli perbintangan memahami ketiga makna tersebut, jadi tidak ada pertentangan dan kontradiksi antara ketiga makna tersebut dan juga pemahaman orang badui dan ahli perbintangan. Perhatikan firman Allah swt yang menjelaskan gambaran tentang api dan fungsinya dalam kehidupan anak manusia. أَفَرَأَيْتُمُ النَّارَ الَّتِي تُورُونَ (71) أَأَنْتُمْ أَنْشَأْتُمْ شَجَرَتَهَا أَمْ نَحْنُ الْمُنْشِئُونَ (72) نَحْنُ جَعَلْنَاهَا تَذْكِرَةً وَمَتَاعًا لِلْمُقْوِينَ (73) “Maka Terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau kamikah yang menjadikannya? Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir.” (QS. Al Waqiah : 71-73) Kita lihat kata “Muqwiin” yang merupakan bentuk jamak dari “Muqwin” yang berarti orang yang tinggal di padang pasir, orang yang lapar dan orang yang menikmati. Adapun dalil dari makna pertama adalah bait syair di bawah ini : واني لأخـتـار القـوي طـاوي الحـشـا محـاذرة مـن ان يـقـال لـئـيـم Sungguh aku utamakan orang pada pasir yang lapar Agar tidak digelari sebagai orang yang pelit Seorang arab badui akan memahami makna yang pertama, karena api adalah nikmat bagi orang-orang yang tinggal di padang pasir, karena api itu menerangi rumah-rumah dan lingkungan mereka, sekaligus menjadi penerang tempat mereka berkumpul. Adapun kalangan awam yang tinggal di kota akan mudah memahami makna yang kedua, karena bagi mereka api berfungsi sebagai sarana untuk memasak makanan mereka, bagi mereka api adalah barang yang sangat penting bagi “muqwin” yang artinya orang yang lapar. Adapun makna ketiga adalah ungkapan tentang kartu terbuka yang menunggu perkembangan zaman dan waktu, tidak ada aneka fungsi api yang di temukan oleh kemajuan dan ilmu kecuali telah dijelaskan secara jelas oleh kata muqwin dalam ayat tersebut di atas, makna ketiga ini pasti difahami secara otomatis oleh setiap orang yang tinggal di kota. Perhatikan salah satu ayat yang menjelaskan gambaran tentang matahari dan rembulan dengan karakteristiknya masing-masing, Allah swt berfirman : تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا “Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” (QS. Al Furqan : 61) Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman : أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا (15) وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا (16) “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?” (QS. Nuh : 15-16) “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.” (QS. Yunus : 5) Kita melihat ketiga ayat menjelaskan matahari sebagai سِرَاجًا “siraj” lampu pelita sekaligus juga penerang, dan bulan sebagai نُورًا “nur” cahaya dan penerang, ini adalah gambaran detail yang menyentuh seluruh makna yang difahami oleh seluruh lapisan masyarakat, sesuai dengan wawasan dan level pemahaman mereka. Adapun orang badui yang ada di pedalaman memahami kedua gambaran di atas dengan baik, bahwa keduanya memilki kesamaan dalam memberikan penerangan kepada manusia secara mutlak, karena kata siraj dan nur memiliki makna yang sama yaitu sebagai penerang. Namun orang-orang yang memiliki wawasan ilmu pengetahuan luas memahami bahwa keduanya memiliki makna yang sama sebagai penerang, hanya saja matahari selain menerangi ia juga membawa hawa panas, adapun bulan memberi cahaya yang tidak ada panasnya. Karena sesuatu tidak akan dikatakan sebagai siraj kecuali selalu disertai dengan panas. Adapun ahlii perbintangan atau yang mengenali dengan dalam tabiat matahari dan bulan, mereka memahami dua gambaran di atas, apabila mereka tahu bahasa arab. Sesungguhnya ayat-ayat di atas memberikan penjelasan bahwa matahari memberikan penerangan dari dalam dirinya sendiri, adapun bulan cahayanya adalah hasil pantulan sinar yang ditangkapnya, ini adalah perbedaan kata yang sangat detail dan teliti, kita tidak menyebut kamar kita dengan siraj karena ia memberikan cahaya atau sinar, tapi kita katakan cahaya kamar adalah pancarnn cahaya lampu yang menyinari dari dalam dirinya sendiri, siraj memancarkan sinar dan cahaya dari dirinya sendiri. Imam mufassir Al Baidhawi menafsiri ayat : “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.” (QS. Yunus : 5) setelah beliau mejelaskan gambaran matahari dan bulan, “Allah swt memberikan pengetahuan kepada kita, bahwasanya matahari bersinar dengan dirinya sendiri,sementara bulan bersinar karena menerima pantulan sinar matahari dan menyerapnya.” Banyak bukti yang menunjukkan keajaiban sisi tarbiyah yang dahsyat dalam kitab Allah swt, sebenarnya kami ingin memaparkan banyak contoh, namun kami tidak ingin keluar lebih jauh dari tema yang kita bahas dalam buku ini. Ala kulli hal, cukuplah kita tahu bahwa Al Quran telah melakukan dialog aqliah dengan menyingkap rahasia alam semesta dan realita segala kejadian-kejadian yang ada di dalamnya, dengan memilih dan memilah gaya bahasa yang sesuai dengan seluruh kemampuan dan level pemahaman mitra dialognya, tanpa sedikitpun meninggalkan kontradiksi dan pertentangan dalam pemahaman maupun dalam makna bahasa itu sendiri. Di antara buah dari tarbiyah yang bijak ini adalah, Al Quran telah menjelaskan pengetahuan tentang alam semesta ini dengan bahasa yang jauh dari istilah ilmiah yang pelik, kalau tidak maka dialog dalam Al Quran tidak akan menyentuh kecuali sedikit dari kalangan manusia. Dan di antara buah dari tarbiyah yang bijak ini adalah gaya bahasa Al Quran mampu mendorong manusia untuk lebih banyak mengamati dan menganalisa, tidak hanya sekedar mewajibkan manusia untuk mengimani berita ghaibnya. Kalau saja Al Quran memakai gaya bahasa instruksi wajib, maka manusia hanya dituntut untuk iman kepada masalah ilmiah ini, sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh Al Quran tanpa melakukan eksperimen dan pembuktian, yang menjadi sarana utama dan fundamental yang menyampaikannya pada hakikat ilmiah tentang alam semesta ini, maha suci Allah yang telah memuliakan manusia dengan akal dari perintah ini. Karenanya Allah swt berfirman : قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi.” (QS. Yunus : 101) وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?(QS. Adz Dzariyat : 21) إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa.” (QS. Yunus : 6) قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآَخِرَةَ “Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi.” (QS. Al Ankabut : 20) Ketika ayat Al Quran membahas tentang hakikat ilmu dan detail alam semesta ini, maka ayat-ayat itu akan menyatakan prinsip keseimbangan, kerapian dalam pengaturan detail susunannya, atau ayat-ayat itu akan memberikan gambaran permukaan yang bisa disentuh oleh salah satu panca indra manusia, atau ayat-ayat itu mengaitkannya dengan sarana hidup manusia, dilihat dari sisi urgensinya bagi terpenuhinya kebutuhan sekaligus kesuseuaiannya dengan tabiat hidup manusia. Lihatlah firman Allah swt : وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا “Dan dia Telah menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al Furqan : 2) إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ “Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al Qamar : 49) وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ “Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya dan kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.(QS. Al Hijr : 21) قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى “Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang Telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, Kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaha : 50) Lihatlah analisa dan penggambaran Allah swt dalam ayat-ayat berikut ini : وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ “Dan kami Telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan kami turunkan hujan dari langit, lalu kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. Al Hijr : 22) وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ “Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Ar Ra'du : 3) Kalau kita membayangkan ayat-ayat di atas memaparkan analisa ilmiah terhadap segala hal, menjelaskan detail proses penyusunan dan detail bagian-bagiannya, maka itu tidak akan kita dapat dalam Al Quran, kecuali dalam bahasan sejarah yang memaparkan peristiwa dan bagaimana asal kejadiannya. Hikmah tarbawiyah dari semua ini adalah, agar akal tidak mendapatkan keyakinan tentang hakikat ilmiah segala hal yang bisa diindera, dengan jalan berita ghaib, tanpa melakukan pengamatan, analisa, eksperimen dan pembuktian. Kalau Allah menjelaskan makna ayat ini (maddal ardha) atau (Yughsyil lailan nahaara) dengan penjelasan ilmiah dan detail, maka Allah pasti mewajibkan kita untuk mengimaninya secara ghaib, tanpa melalui proses pengamatan dan analisa terlebih dahulu. Dan telah kami katakan pada alinea yang telah lalu, maha suci Allah dari hal ini, Allah telah memuliakan manusia dengan menjauhkan perintah wajib seperti ini, sementara sarana yang kita miliki bisa kita fungsikan untuk mengamati dan menganalisa. Kita tahu bahwasanya kesalahan terbesar dalam tarbiyah kita adalah, ketika di depan anak didik kita ada jalan mudah dan natural untuk sampai kepada sebuah kebenaran ilmiah dengan sentuhan kerja keras inderanya, namun kita kita persulit jalan itu dengan sikap otoriter dan kekuasaan kita sebagai guru dalam memahami hakikat kebenaran tersebut. Kita tidak layak untuk bertanya, mengapa Allah swt menjelaskan dengan detail, hal-hal ghaib yang kita tidak pernah melihatnya atau menginderanya sama sekali, seperti malaikat, jin, neraka, surga lengkap dengan deskripsinya, lalu kita dituntut untuk mengimani ini semua sesuai dengan berita ghaib yang telah kita terima, tanpa sedikitpun peran ilmu pengetahuan dan indera kita di dalamnya. Ya, kita tidak layak melontarkan pertanyaan seperti ini, karena hal-hal yang kita sebut di atas, yang dijelaskan dengan mendetail, memang bukan termasuk dalam kategori hal-hal yang bisa disentuh dengan pendekatan indera, eksperimen dan pembuktian. Tidak ada sarana yang menyampaikan kita pada pengetahuan tentang hal-hal ghaib di atas kecuali dengan berita ghaib yang pasti, dari orang yang kita percaya, yang tidak pernah ingkar dan bohong dalam setiap berita yang ia bawa. Kalau saja Allah swt menginstruksikan kita untuk melakuakan pengamatan dan analisa terhadap malaikat misalnya, dan mendorong kita untuk menyingkap hakikatnya, maka pengamatan dan pikiran itu tidak akan dapat menjangkau, walaupun kita lakukan dalam waktu yang lama, karena dari indera kita tidak ada sarana pendukung untuk mendapatkan ilmu tersebut, maka tidak ada jalan terbaik kecuali menyerahkannya pada berita yang benar-benar memiliki nilai kebenaran murni.

Minggu, 22 April 2012

Konsep TARBIYAH dalam Alquran (2)

Oleh: DR. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy

C.1. Dasar-dasar konsep tarbiyah dalam Al Quran

Pendahuluan

Al Quran memiliki konsep tarbiyah yang unik, di dalamnya juga terdapat prinsip-prinsip pokok tarbiyah yang unik, keduanya memiliki perbedaan yang cukup besar.


Adapun konsep tarbiyah dalam Al Quran adalah jalan yang diampukan oleh Al Quran kepada semua umat Islam agar megikutinya dan berpegang teguh padanya. Adapun prinsip-priinsi pokok tarbiyah adalah seperangkat hukum, aturan dan nilai yang dibangun dan didakwahkan oleh Islam, dalam rangka membangun kepribadian, akhlak dan prilaku mereka, yang tercakup dalam hukum halal dan haram, aneka nilai akhlak yang diajarkan dan didakwahkan oleh Al Quran.

Sedang yang kami maksud konsep tarbiyah disini adalah konsep yang diampu oleh Al Quran, bukan yang disentuh oleh ajaran Islam secara umum. Karena Islam adalah agama yang secara garis besar aadalah konsep tarbiyah umat Islam secara menyeluruh, yang mewarnai jiwa, raga dan akal pikirannya, untuk meningkatkan kepribadiannya pada derajat fitrah yang hakiki.

Konsep tarbiyah yang menjadi tema bahasan kita dalam buku ini, terbagi ke dalam cabang dan bagian-bagian yang beragam banyaknya, akan menjadi panjang dan lama jika kita membahasnya dengan rincian dan detail-detailnya.

Kita akan mengambil prinsip-prinsip pokok dan pendukungnya secara global, dan membahsnya dengan tuntas, agar jelas dalam pandangan kita betapa pentingnya prinsip-prinsip ini dalam lingkup tarbiyah secara umum, dan jelas pula betapa butuhnya para murabbi di setiap medan tarbiyah pada prinsip-prinsip tersebut, sebagai panduan dan pendukung mereka dalam melakukan proses tarbiyah.

Pemahaman kita akan prinsip-prinsip ini akan memabawa kita kepada studi dan analisa lebih lanjut, lalu membuahkan nilai bagi konsep tarbiyah yang baru dan smart yang mana setiap ulama tarbiyah harus mengetahuinya, semenjak tarbiyah menjadi disiplin ilmu tersendiri, semenjak tarbiyah memiliki urgensi dalam tataran pengajaran dan pendidikan, dengan melihat ragam dan jenjang tarbiyah itu sendiri.

Inilh yang kami maksud dengan “Konsep tarbiyah dalam Al Quran” di buku kami yang ringkas dan sederhana ini.

Bertolak pada penjelasan di atas, ada tiga prinsip dasar tarbiyah yang dibangun dalam konsep tarbiyah Al Quran, ketiga prinsip dasar itu adalah :

Pertama, Muhakamah aqliah
Kedua, Ibrah dari sejarah
Ketiga, Menggugah emosi

Semua model tarbiyah yang kita dapatkan dalam Al Quran bermuara pada satu dari tiga prinsip dasar tarbiyah di atas, beredar dalam poros dan berjalan sesuai dengan salah satu dari tiga prinsip dai atas.

Dalam prakteknya ketiga prinsip dasar tarbiyah selalu terpisah, namun kesatuan dari ketiganya mencerminkan tangga yang harus kita pakai dalam menaikkan kepribadian dan akal pada posisi yang lebih tinggi dan mulia, yang mana fitrah kemanusiaan selalu cenderung padanya..


Akal saja tidak cukup untuk menumbuhkan kepercayaan diri, selama tidak ada dukungan realita yang menguatkannya, yang tercemin dalam sejarah dengan peristiwa dan ibrah yang selalu menyertainya. Bahkan ketika hati kita telah merasa kepercayaan diri, belumlah akan menjaadi tertarah dan terdorong, kecuali setelah ada tentara dan prajurit emosi dan perasaan yang kami sebut dengan menggugah emosi.

Jika tiga faktor ini terpenuhi dalam diri setiap anak manusia, dan membeikan panduan yang jelas kepada satu jalan, maka tidak akan ada rintangan ataupun halangan berarti dalam mencapai tujuannya.

Kita tidak akan terjauhkan dari hakikat sesuatu, terhalang untuk sampai pada tujuan hakikat tersebut, kecuali apabila salah satu dari ketiga faktor di atas tdak menunjukkan perannya dengan baik dalam menemukan, menyingkap dan memudahkan jalan pada hakikat ini.

Kita akan lihat pada bab-bab yang akan datang, bagaimana Al Quran memberikan sentuhan tiga faktor di atas dalam mendidik manusia, menggiring mereka pada jalan kebenaran dan kebahagiaan.

C.2. Dialog Aqliah


Dialog aqliah Al Quran bisa kita lihat dari tiga sisi berikut ini :

Pertama, Pengenalan jati diri manusia
Kedua, Pemilihan gaya bahasa yang sesuai dengan tingkat pengetahuan umum manusia
Ketiga, Pendekatan dialog dan diskusi

Pertama, pengenalan jati diri manusia

Al Quran memulai dialognya bersama manusia dengan mengarahkann mereka pada perenungan dan penghayatan akan jati diri mereka, dan berbicara tentang asal muasal, hakikat diri, pertumbuhan dan perkembangannya.

Hal ini secara jelas kita lihat di ayat pertama Al Quran yang turun, sebagaimana kita lihat pada lembaran-lembaran pertama Al Quran dari sisi penulisan secara tertib dan urut. Ayat pertama yang turun berisi pengenalan manusia dan jati dirinya, Allah swt berfirman :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)


“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” .(QS. Al Alaq : 1-5)

Kita perhatikan Allah tidak menunjukkan rububiyyah dan keesaan-Nya kepada manusia untuk awal ayat yang turun ini, namun Allah justru menunjukkan manusia kepada jati diri, asal muasal dan proses kejadiannya.

Begitu juga lembaran pertama Al Quran dari surat Al Baqarah, yang merupakan surat pertama dalam Al Al Quran (setelah ummul kitab), berisi tentang pengelompokan manusia dalam kehidupan di dunia ini, ada kelompok manusia beriman, kelompok manusia kafir dan kelompok manusia munafik, lalu sejarah perkembangan dan akhir kehidupann mereka.

Peringatan Allah kepada manusia akan jati dirinya dalam ayat di atas akan selalu berulang dalam surat-surat yang lain, jika kontek surat membutuhkan dalil adanya alam semesta dan realitas umat manusia, sebagai bukti bagi wujudnya Allah sang Khaliq, keesaan-Nya sekaligus juga hari akhir dengan segala kejadian dan peristiwa yang melingkupinya.

Ini adalah prolog yang memiliki nilai tarbiyah sangat penting, karena semua pengetahuan yang didapatkan manusia pada hakikatnya adalah buah dari pengetahuan sebelumnya, yakni pengetahuan akan jati dirinya. Tanpa pengetahuan awal ini, manusia tidak akan menemukan timbangan yang valid bagi pengetahuan yang berkembang dibawahnya. Kalau kita tidak yakin dengan akal dan tugasnya, maka kita tidak akan percaya kata-kata dan hasil pemikirannya, kalau bukan karena pengetahuan kita akan jati diri kita yang terdiri dari unsur ruhani dan jasmani, maka kita tidak akan sampai pada pengetahuan tentang hakikat alam semesta yang bertebaran di sekitar kita, dan kita tidak akan memahami hubungan kita dengan alam semesta.

Begitulah...apabila pengetahuan kita akan hakikat diri kita itu baik dan benar, maka pengetahuan kita akan alam semesta ini akan baik dan benar pula.

Sebaliknya, jika kita tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang jati diri kita dan batasan-batasannya, maka kita juga tidak akan sempurna dalam memahami uluhiyyah Allah, tidak akan benar aqidah kita tentang alam semesta, awal dan akhir perjalanannya, karena kepercayaan diri kita merupakan sumber bagai kepercayaan kita kepada setiap teori dan aturan hukum yang kita hasilkan. Apabia pencari kebenaran tidak yakin dengan diri dan akal yang ia punya, atau dalam kondisi yang tidak benar, maka akan hilanglah semua keyakinan akan ilmu dan pengetahuan dalam dirinya, dan kalaupun ilmu pengetahuan itu ia dapatkan, pasti penuh dengan kesalahan.

Mari kita perhatikan, sesungguhnya orang kafir yang mengingkari keimanannya kepada Allah, tidak mampu mendudukkan rububiyyah Allah dalam hatinya, adalah karena mata mereka yang buta dengan apa yang ada di sekelililng mereka, tidak pernah sadar sedikitpun untuk bergerak merenungi dan menyelami jati diri mereka.

Demi pentingnya hakikat inilah, Al Quran memulai sentuhan dialog aqliahnya kepada orang-orang yang mengingkari keberadaan Allah dengan mengalihkan perhatian mereka kepada diri mereka dan cerita hidup mereka sendiri, ketika mereka sudah menyadari ini, maka Allah akan ajak mereka untuk berdialog tentang rububiyah dan keesaan-Nya, sekaligus juga kehambaan manusia pada-Nya.
Mari kita renungkan ayat-ayat berikut ini :

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ (5) خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ (6) يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ (7) إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ (8)

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. Sesungguhnya Allah benar-benar Kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati).” (QS. Ath Thariq : 5-8)

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya kami Telah menjadikan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes mani, Kemudian dari segumpal darah, Kemudian dari segumpal daging yang Sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, Kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, Kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya Telah diketahuinya.” (QS. Al Haj : 5)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (<14)

“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al Mukminun : 12-14)

Jika kita merenungi ayat-ayat ini dan yang semisal dengannya, maka ayat-ayat itu berisikan tentang hakikat alam semesta ini, dengan keterpaduan dan ketundukannya pada aturan Tuhan yang Esa. Ayat-ayat ini menjadi prolog dalam menyingkap hakikat alam semesta dalam akal dan pikiran manusia.

Jika kita bersungguh-sungguhh dalam merenungi ayat-ayat Al Quran, maka kita akan melihat, bahwasanya Al Quran tidak akan berpanjang-panjang dan mendetail dalam menganalisa segala hal yang berkaitan dengan alam semesta, bahwasanya Al Quran tidak akan berbicara dengan gaya bahasa yang sangat beragam tentang awal munculnya alam semesta dan perkembangannya, sebagaimana yang dilakukan Al Quran ketika membahas dan membicarakan manusia.

Hikmah dari realitas ini adalah bahwa pengenalan manusia akan jati dirinya dan asal muasal penciptaannnya, adalah merupakan sarana tarbiyah yang tidak ada duanya, dalam kerangka meyakinkan akal dan pikirannya tentang hakikat yang menjadi rahasia bagi keberadaan dirinya.


Sumber : http://www.eramuslim.com/manhaj-dakwah/krisis-akhlaq/konsep-tarbiyah-dalam-alquran-2.htm